Oleh: h4d1 | 31 Juli 2012

Pilkada

Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Berikut ini saya menulis tentang Pilkada di Indonesia. Mendengar kata Pilkada, ada yang mengasosiasikan dengan kebosanan, muak, kerusuhan, atau malah sumber untuk mendapat uang/barang-barang gratis. Total ada 500-an daerah tingkat I dan II di Indonesia, yang berarti tiap tahun rata-rata ada 100-an yang melakukan pilkada, berarti tiap Minggu rata-rata ada dua Pilkada bergantian di seluruh penjuru Indonesia. Begitu pula uang miliaran rupiah dibelanjakan tiap Minggunya untuk Pilkada setiap Minggu.

Semenjak pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara langsung oleh rakyat pada tahun 2005, iklan untuk mendukung sang calon bertebaran di mana-mana, mulai di jalanan, TV, poster, stiker, koran, dll. Beberapa isinya cukup aneh. Satu yang saya pernah lihat bertuliskan: “Coblosen brengose” (kumisnya). Ada walikota yang setelah menjabat walikota, lalu mencalonkan menjadi wakil walikota. Membuat dia tetap berkuasa di pemerintahan. Ada istri bupati Kediri terdahulu yang mencalonkan diri, dan itu tidak tanggung-tanggung, kedua istrinya bersama-sama mencalonkan diri! Dari total 3 calon, 2 di antaranya istri pertama dan kedua dari bupati. Jangan-jangan memang ada perseteruan di antara istri bupati.

Ada artis-artis yang merasa diri cukup dikenal atau diminta oleh partai berbondong-bondong ikut Pilkada. Sistem Pilkada memang perlu sosok yang ngetop, kalau cuma pandai saja tapi tidak ngetop ya tidak banyak yang memilih. Biasanya artis-artis hanya dijadikan sebagai wakil alias ban serep, supaya calon utamanya banyak yang milih. Keberhasilan Rano Karno dan Dede Yusuf menarik banyak artis lain untuk ikut terjun dalam Pilkada serta DPR. Sebut saja Irwansyah, Ayu Azhari, Irwansyah, hingga Jupe pun pernah bertekad untuk maju dalam Pilkada.

Melihat berita seputar kepala daerah di Indonesia banyak yang aneh-aneh, seperti ada bupati yang dipenjara tapi masih menjabat, bupati Mesuji yang dilantik di penjara, hingga pemulung mau mencalonkan diri jadi walikota Kediri. Di Kabupaten Boven Digul bupatinya memerintah dari balik penjara pada 2 tahun terakhir, penjaranya di Jakarta lagi! Beberapa pejabat lain termasuk Sekda belum ada yang resmi. Belum lagi kantor bupati yang dibangun hingga mencapai 3 kantor, padahal yang 2 dibiarkan kosong.

Apakah Pilkada itu produktif? Kalau itu berhasil memilih sosok baik dan ternama, maka itu berhasil. Tapi nyatanya banyak juga yang malah terpilih sosok yang hanya manis di janji atau di permukaan saja, tidak banyak yang dilakukan atau malah memperparah keadaan atau memperkaya diri. Jika dalam hal itu maka justru tidak baik. Terutama bila uang miliaran yang dikeluarkan pada masa kampanye mau balik ke kantong pribadi. Yang seperti itu memang niatnya tidak untuk mengabdi ke masyarakat. Pilkada yang berakibat rusuh atau malah menewaskan 98 orang seperti yang terjadi Kabupaten Puncak justru memperburuk citra Pilkada di masyarakat, tak heran angka golput lumayan besar. Akhir-akhir ini ada wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD, terutama gubernur. Mari kita lihat apakah akan disetujui.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: