Oleh: h4d1 | 2 Februari 2010

Film Avatar

Pertama kali mendengar judulnya, saya jadi teringat avatar yang biasa disebutkan di forum-forum sebagai gambar representasi diri untuk tiap anggota forum, juga dalam game sebagai simbol karakter yang dimainkan. Aslinya avatar adalah dari kepercayaan Hindu yang berarti titisan dewa kepada manusia. Jadi kupikir film ini sarat dengan muatan new age atau ada muatan mistiknya. Dalam dunia komputer, avatar adalah identitas baru yang dikontrol olehmu tapi tak harus sama denganmu. Rupanya di film ini, ada avatar yg nyata, bukan hanya di layar monitor. Film ini adalah film yang laris manis dan menjadi buah bibir, sampai2 langsung ada serial tiruannya yang ditayangkan di Indonesia. Film ini ada versi 3Dnya di bioskop. Pada sebagian orang itu membuat tidak nyaman karena kacamata 3D-nya ada kecenderunganyn untuk melorot di hidung. Sementara bagi yang memakai kaca mata jadi tak masalah bila kacamata 3D-nya bisa ditumpangi ke atas kacamata biasanya.

Satu hal yang saya paling suka itu adalah imajinasi pengarang yang tinggi sekali, makhluk2 di dalamnya sih mirip dengan makhluk di bumi tapi ditambah2i, contoh: monyet bertangan 4, kuda berkaki 6 dan makan nektar) dan ada pula makhluk2 khayal seperti naga. Yang mengesankan itu adanya makhluk2 yang bersinar di malam hari, seperti di dalam taman impian saja. Sungguh mengherankan karena semestinya sesuatu yang bersinar di malam hari akan menjadi target yang empuk dan sempurna. Baik hewan maupun tumbuhan di dunia yang disebut Pandora itu berukuran lebih besar dari manusia. Makhluk serupa manusia di sana kira2 tingginya 3-3,5 m dan berekor; “Jamur” yang lebih tinggi dari manusia; “Kuda” yang tingginya bisa mencapai 4 meter; hewan serupa badak tapi berkepala hiu martil; benih yang mirip ubur-ubur; naga yang bisa dikendarai dan patuh bak pesawat pribadi, dikendalikan dengan pikiran lagi. Makhluk yang paling ditakuti ialah naga raksasa dengan bentangan sayap yang bisa selebar lapangan bola. Pepohonan di rimba Pandora besar sekali sehingga makhluk serupa manusia yang disebut Na’vi jadi nampak seperti semut. Tapi ada pohon yang lebih besar jauh melebihi pohon2 lain rimba yang dikeramatkan oleh penduduk. Pemandangan alam di sana sungguh indah, seakan ingin menampilkan angan2 manusia tentang surga. Yang paling berkesan bagiku ialah adanya “pulau” yang mengambang di angkasa. Entah darimana datangnya dan bagaimana bisa bongkahan batu tidak patuh pada gaya gravitasi, sementara terlihat ada air terjun yiang mengalir ke bawah dari sela2 batuan, menunjukkan air tetap patuh pada gaya gravitasi. Rasanya saya pernah mendengar ide tentang “pulau” mengambang sebelumnya, entah di mana saya lupa. Ketika melihat pakaian Na’vi, ritualnya, rambutnya yang gimbal, dan cara hidupnya yang seperti di jaman batu, saya jadi teringat dengan suku di Afrika semacam Himba. Meskipun suku2 primitif di bumi umumnya bukanlah suku yang damai sebagaimana Na’vi, tapi bertarung satu sama lain, bahkan beberapa dilabeli pemburu kepala (headhunter). Bagaimana mereka berusaha bersatu melawan pihak penyerang yang bersenjata canggih mengingatkanku pada Shaka Zulu melawan pasukan Inggris. Tapi ini lebih hebat dan tak masuk akal ketika orang primitif berhasil menang melawan robot dan senjata2 canggih.

Saya merasa jalan ceritanya sih standar film Barat dengan bumbu-bumbu percintaannya. Konflik2 yang tercipta pun mirip dengan konflik yang terjadi di dunia nyata. Contohnya ada pihak yang ingin mengeksploitasi, tapi terbentur dengan penduduk setempat yang menentang. Eksploitasi berjalan terus dengan jalan militer, mirip dengan apa yang terjadi pada orang2 Indian di Amerika Utara, orang Zulu, Amazon dsb. Ditambah sindiran terhadap orang yang mengeksploitasi rimba dan dituduh menyebabkan pemanasan global. Seakan sebuah sindiran terhadap kemajuan yang dicapai manusia tapi licik dalam memuaskan keinginannya. Percampuran antara hidup di dunia nyata dan dunia mimpi dulu sudah pernah difilmkan di film2 lain. Waktu bangun, jadi manusia yang membosankan karena lumpuh. Waktu ‘bermimpi’ di dunia Pandora jadi bisa bebas, mendapat pasangan, dan bahkan punya kekuatan mempengaruhi kepala suku dan bahkan suku2 lainnya. Dia menjadi pahlawan yang akan melegenda, semacam Mesias. Maka tak heran batas antara dunia nyata dan dunia mimpi dileburkan hingga sang tokoh utama memilih meninggalkan kehidupan aslinya (seeprti kelahiran kembali menjadi avatar sepenuhnya). Sebuah idaman manusia berabad2 untuk bisa lepas dari dunia yang dia tinggali selama ini.

Ceritanya seakan mengagungkan bahwa orang primitif itu lebih baik daripada orang modern (noble savage). Secara garis besar: primitif=hidup senang, religius, dan damai; Manusia=rakus, perusak, tidak religius dan jahat. Di Pandora, Na’vi bisa menyembuhkan diri dengan kekuatan alam yang beserta mereka, dan ada hubungan antara ‘manusia’ dan alam, baik secara batiniah atau secara langsung dengan ‘kabel USB’ yg ada di tubuh, terbukti dengan turut bergabungnya hewan2 untuk menyerang pasukan manusia. Menegaskan bahwa ‘orang baik’ akan selalu menang melawan ‘orang jahat’, dan orang jahat tak ada ‘hal baik’-nya. Pertarungan hitam-putih.

Sebuah propaganda new age movement, dengan pesan kembalilah ke alam, persetan dengan korporasi rakus dan jahat yang suka merusak untuk mengeruk keuntungan (mirip org yg menentang global warming skrg). Na’vi menyembah roh besar di Pandora yg bernama Ewa (mirip Eve bukan?), yang menawarkan buah menggoda kepada sang tokoh utama, yaitu hidup di dunia Pandora. Ada roh di dalam pohon yang saling berhubungan dengan segala makhluk yang hidup, maka segala makhluk pun jadi bersatu melawan serangan manusia.

Sebenarnya ide dari jalan ceritanya banyak meminjam dari kisah2 atau kepercayaan yang telah ada, seperti Panteisme, pesan kembali ke alam, spiritual mengalahkan modernitas. Mesias yang hidup menjadi Na’vi (mirip Yesus yang menjadi manusia) dan menaklukkam naga terbesar (setan?), lalu mati dalam tubuh manusianya dan lahir baru menjadi Na’vi seutuhnya (sounds familiar?), adanya taman yg mirip firdaus, suku tribal spt org Afrika atau Indian Amerika, anak kepala suku mau mendampingi orang asing yang mirip Pocahontas. Bukan sebuah kebetulan pula bila rata2 manusia di film itu adalah orang kulit putih. Saya paling tidak sukanya itu bagaimana bisa seorang pengkhianat atasan, menyeberang ke lawan, ikut menjadi penggerak utama menyerang atasan dan bangsanya sendiri, dan dijadikan pahlawan tanpa cela. Kontras sekali dengan Genghis Khan yang menyuruh bunuh seorang bawahan musuh yang menyerahkan atasannya sendiri. Selain itu bila ingin mendapat unobtainium, semestinya bisa diusahakan cara persuasif lain, tidak langsung dengan perang yg merugikan kedua belah pihak. Setelah manusia bisa diusir pun saya tak yakin kalau manusia tidak akan kembali lagi. Mengingat apa yg dulu terjadi pada orang di Afrika dan Indian, saya yakin mereka akan diusik kembali di masa mendatang, setidaknya untuk balas dendam dari kekalahan yang memalukan dari suku primitif. Barangkali Avatar akan lebih baik bila tidak ada peperangan dan meneruskan ceritanya berdasar hal2 menakjubkan yang terjadi di dunia Pandora.

NB: Ini ada pandangan yang menghubungkan cerita di Avatar dengan negara Kongo.

Iklan

Responses

  1. Pertama kali mendengar Film Avatar di Bioskop,saya kira Film Avatar yg Aang itu…
    Ternyata jauh berbeda…
    Film ini sangat dasyat dan keren bgt..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: