Oleh: h4d1 | 2 Februari 2010

Film Avatar

Pertama kali mendengar judulnya, saya jadi teringat avatar yang biasa disebutkan di forum-forum sebagai gambar representasi diri untuk tiap anggota forum, juga dalam game sebagai simbol karakter yang dimainkan. Aslinya avatar adalah dari kepercayaan Hindu yang berarti titisan dewa kepada manusia. Jadi kupikir film ini sarat dengan muatan new age atau ada muatan mistiknya. Dalam dunia komputer, avatar adalah identitas baru yang dikontrol olehmu tapi tak harus sama denganmu. Rupanya di film ini, ada avatar yg nyata, bukan hanya di layar monitor. Film ini adalah film yang laris manis dan menjadi buah bibir, sampai2 langsung ada serial tiruannya yang ditayangkan di Indonesia. Film ini ada versi 3Dnya di bioskop. Pada sebagian orang itu membuat tidak nyaman karena kacamata 3D-nya ada kecenderunganyn untuk melorot di hidung. Sementara bagi yang memakai kaca mata jadi tak masalah bila kacamata 3D-nya bisa ditumpangi ke atas kacamata biasanya.

Satu hal yang saya paling suka itu adalah imajinasi pengarang yang tinggi sekali, makhluk2 di dalamnya sih mirip dengan makhluk di bumi tapi ditambah2i, contoh: monyet bertangan 4, kuda berkaki 6 dan makan nektar) dan ada pula makhluk2 khayal seperti naga. Yang mengesankan itu adanya makhluk2 yang bersinar di malam hari, seperti di dalam taman impian saja. Sungguh mengherankan karena semestinya sesuatu yang bersinar di malam hari akan menjadi target yang empuk dan sempurna. Baik hewan maupun tumbuhan di dunia yang disebut Pandora itu berukuran lebih besar dari manusia. Makhluk serupa manusia di sana kira2 tingginya 3-3,5 m dan berekor; “Jamur” yang lebih tinggi dari manusia; “Kuda” yang tingginya bisa mencapai 4 meter; hewan serupa badak tapi berkepala hiu martil; benih yang mirip ubur-ubur; naga yang bisa dikendarai dan patuh bak pesawat pribadi, dikendalikan dengan pikiran lagi. Makhluk yang paling ditakuti ialah naga raksasa dengan bentangan sayap yang bisa selebar lapangan bola. Pepohonan di rimba Pandora besar sekali sehingga makhluk serupa manusia yang disebut Na’vi jadi nampak seperti semut. Tapi ada pohon yang lebih besar jauh melebihi pohon2 lain rimba yang dikeramatkan oleh penduduk. Pemandangan alam di sana sungguh indah, seakan ingin menampilkan angan2 manusia tentang surga. Yang paling berkesan bagiku ialah adanya “pulau” yang mengambang di angkasa. Entah darimana datangnya dan bagaimana bisa bongkahan batu tidak patuh pada gaya gravitasi, sementara terlihat ada air terjun yiang mengalir ke bawah dari sela2 batuan, menunjukkan air tetap patuh pada gaya gravitasi. Rasanya saya pernah mendengar ide tentang “pulau” mengambang sebelumnya, entah di mana saya lupa. Ketika melihat pakaian Na’vi, ritualnya, rambutnya yang gimbal, dan cara hidupnya yang seperti di jaman batu, saya jadi teringat dengan suku di Afrika semacam Himba. Meskipun suku2 primitif di bumi umumnya bukanlah suku yang damai sebagaimana Na’vi, tapi bertarung satu sama lain, bahkan beberapa dilabeli pemburu kepala (headhunter). Bagaimana mereka berusaha bersatu melawan pihak penyerang yang bersenjata canggih mengingatkanku pada Shaka Zulu melawan pasukan Inggris. Tapi ini lebih hebat dan tak masuk akal ketika orang primitif berhasil menang melawan robot dan senjata2 canggih.

Saya merasa jalan ceritanya sih standar film Barat dengan bumbu-bumbu percintaannya. Konflik2 yang tercipta pun mirip dengan konflik yang terjadi di dunia nyata. Contohnya ada pihak yang ingin mengeksploitasi, tapi terbentur dengan penduduk setempat yang menentang. Eksploitasi berjalan terus dengan jalan militer, mirip dengan apa yang terjadi pada orang2 Indian di Amerika Utara, orang Zulu, Amazon dsb. Ditambah sindiran terhadap orang yang mengeksploitasi rimba dan dituduh menyebabkan pemanasan global. Seakan sebuah sindiran terhadap kemajuan yang dicapai manusia tapi licik dalam memuaskan keinginannya. Percampuran antara hidup di dunia nyata dan dunia mimpi dulu sudah pernah difilmkan di film2 lain. Waktu bangun, jadi manusia yang membosankan karena lumpuh. Waktu ‘bermimpi’ di dunia Pandora jadi bisa bebas, mendapat pasangan, dan bahkan punya kekuatan mempengaruhi kepala suku dan bahkan suku2 lainnya. Dia menjadi pahlawan yang akan melegenda, semacam Mesias. Maka tak heran batas antara dunia nyata dan dunia mimpi dileburkan hingga sang tokoh utama memilih meninggalkan kehidupan aslinya (seeprti kelahiran kembali menjadi avatar sepenuhnya). Sebuah idaman manusia berabad2 untuk bisa lepas dari dunia yang dia tinggali selama ini.

Ceritanya seakan mengagungkan bahwa orang primitif itu lebih baik daripada orang modern (noble savage). Secara garis besar: primitif=hidup senang, religius, dan damai; Manusia=rakus, perusak, tidak religius dan jahat. Di Pandora, Na’vi bisa menyembuhkan diri dengan kekuatan alam yang beserta mereka, dan ada hubungan antara ‘manusia’ dan alam, baik secara batiniah atau secara langsung dengan ‘kabel USB’ yg ada di tubuh, terbukti dengan turut bergabungnya hewan2 untuk menyerang pasukan manusia. Menegaskan bahwa ‘orang baik’ akan selalu menang melawan ‘orang jahat’, dan orang jahat tak ada ‘hal baik’-nya. Pertarungan hitam-putih.

Sebuah propaganda new age movement, dengan pesan kembalilah ke alam, persetan dengan korporasi rakus dan jahat yang suka merusak untuk mengeruk keuntungan (mirip org yg menentang global warming skrg). Na’vi menyembah roh besar di Pandora yg bernama Ewa (mirip Eve bukan?), yang menawarkan buah menggoda kepada sang tokoh utama, yaitu hidup di dunia Pandora. Ada roh di dalam pohon yang saling berhubungan dengan segala makhluk yang hidup, maka segala makhluk pun jadi bersatu melawan serangan manusia.

Sebenarnya ide dari jalan ceritanya banyak meminjam dari kisah2 atau kepercayaan yang telah ada, seperti Panteisme, pesan kembali ke alam, spiritual mengalahkan modernitas. Mesias yang hidup menjadi Na’vi (mirip Yesus yang menjadi manusia) dan menaklukkam naga terbesar (setan?), lalu mati dalam tubuh manusianya dan lahir baru menjadi Na’vi seutuhnya (sounds familiar?), adanya taman yg mirip firdaus, suku tribal spt org Afrika atau Indian Amerika, anak kepala suku mau mendampingi orang asing yang mirip Pocahontas. Bukan sebuah kebetulan pula bila rata2 manusia di film itu adalah orang kulit putih. Saya paling tidak sukanya itu bagaimana bisa seorang pengkhianat atasan, menyeberang ke lawan, ikut menjadi penggerak utama menyerang atasan dan bangsanya sendiri, dan dijadikan pahlawan tanpa cela. Kontras sekali dengan Genghis Khan yang menyuruh bunuh seorang bawahan musuh yang menyerahkan atasannya sendiri. Selain itu bila ingin mendapat unobtainium, semestinya bisa diusahakan cara persuasif lain, tidak langsung dengan perang yg merugikan kedua belah pihak. Setelah manusia bisa diusir pun saya tak yakin kalau manusia tidak akan kembali lagi. Mengingat apa yg dulu terjadi pada orang di Afrika dan Indian, saya yakin mereka akan diusik kembali di masa mendatang, setidaknya untuk balas dendam dari kekalahan yang memalukan dari suku primitif. Barangkali Avatar akan lebih baik bila tidak ada peperangan dan meneruskan ceritanya berdasar hal2 menakjubkan yang terjadi di dunia Pandora.

Sekian dulu, kelak akan kutambahi bila merasa ada yang kurang/salah.

Oleh: h4d1 | 29 Oktober 2009

Apa yang kurang di Indonesia?

Indonesia, sebuah negara besar, baik dari luas wilayah maupun dari jumlah penduduk. Kaya dengan hasil bumi, sampai dikatakan gemah ripah loh jinawi. Jumlah penduduknya terbesar nomor 4 di dunia, dan no. 3 di Asia setelah Tiongkok dan India. Tapi saya mendapati seringkali di saat ada pendaftaran untuk suatu kegiatan, atau pilihan bahasa yang bisa diunduh, tak ada nama Indonesia di sana. Malah negara dengan penduduk kecil semacam Norwegia bisa muncul. Bahasa Tamil, Marathi, Thailand pun bisa muncul, tapi tidak ada bahasa Indonesia. Apa yang salah dengan Indonesia?

Tantangan utama Indonesia ialah wilayahnya yang terdiri dari 17508 pulau, dipisahkan oleh laut dan selat, serta penduduknya yang terdiri lebih dari 300 suku bangsa. Dengan jarak dari Sabang sampai Merauke 5236 km, adalah lebih jauh dari jarak Boston, Amerika Serikat, dengan Lisbon di Portugal, yang mana jaraknya melintasi Samudra Atlantik. Masalah perbedaan bahasa, dengan adanya bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, praktis hampir semua warga Indonesia bisa berbahasa Indonesia.

Beberapa saat lalu digembar-gemborkan adanya visi Indonesia 2030 yang mana GDP per kapita Indonesia mencapai $18000 dan masuk dalam 5 besar ekonomi dunia. Indonesia kini masuk di dalam apa yang disebut Emerging seven (E7), yang diperkirakan makin kecil jaraknya dan lalu mengungguli negara G7. Mengenai bisa tidaknya mencapai angka itu dikesampingkan. Sekarang saya mau membahas dalam hal apa Indonesia harus berbenah dalam tahun-tahun ke depannya. Pendapatan per kapita Indonesia sudah kalah dengan Malaysia dan Thailand, meski masih menang dari Vietnam dan Filipina.

Sumber Daya Alam, tak diragukan. Jumlah penduduk, banyak. Tinggal kualitasnya yang masih dipertanyakan. Saya ada saran mengenai apa yang mesti dilakukan dalam beberapa tahun ke depan, memang ini hanyalah saran dari orang awam yang bukan ahli. Bila ada komentar silakan ditulis di bawah.

Pertama, pembangunan prasarana, meliputi angkutan, perhubungan, telekomunikasi, air bersih, dan listrik. Jalanan yang macet di kota besar dan antar kota, terutama waktu mudik, perlu ditanggulangi. Pembangunan jalan bebas hambatan seperti di Malaysia dan Tiongkok adalah sangat perlu di Jawa. Ditambah pembangunan jembatan Jawa-Bali/Jawa-Sumatra/Sumatra-Malaysia dan jaringan kereta api cepat. Saya yakin jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam tak sampai 4 jam, bukan 10 jam seperti sekarang, atau 1 hari 1 malam kalau naik kelas ekonomi. Bila kecepatan kereta bisa dipacu hingga lebih dari 300 km/jam seperti kereta Beijing-Tianjin, maka saya yakin hanya 2 setengah jam saja sudah bisa sampai. Bila sudah demikian, maka kereta api bisa bersaing dengan pesawat terbang, mengingat stasiun kereta ada di tengah kota. Pembangunan kereta metro di Jakarta sudah semestinya dipercepat. Saya kecewa ketika mendengar MRT Jakarta cuma 14.5 km panjangnya dan pembangunannya baru saja mulai. Beda sekali dengan Beijing yang akan membuka 12 jalur lagi dalam 5 tahun ke depan, sehingga total jalur menjadi 20+. Panjang jalur kereta metro bertambah dari 226 km sekarang menjadi 561 km pada 2015. Pertambahan 335 km! Hampir sejauh separuh jarak Jakarta-Surabaya! Bila negara Tiongkok atau Malaysia bisa membangun highway, saya yakin Indonesia juga bisa membangun jalan trans-Kalimantan/Papua/jalan tol di sepanjang pulau Jawa/Sumatra serta rel lintas Sumatra/Sulawesi/Kalimantan. Setelah itu baru memikirkan jembatan/terowongan Sumatra-Malaysia atau Sumatra-Jawa. Sampai kini masih banyak tempat yang terjangkau mobil, hanya bisa dengan pesawat terbang. Sampai-sampai semen untuk membangun pun diangkut oleh pesawat! Listrik juga mesti dijaga agar jangan sampai kekurangan.

Kedua, pendidikan. Kualitas universitas mesti ditingkatkan sehingga bisa berbicara di tingkat Asia. India saja bisa, mengapa Indonesia tidak? Dengan dana pendidikan yang mencapai 20% APBN, saya kira mungkin untuk membangun prasarana sekolah, laboratorium, pusat penelitian, dan meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Pusat-pusat penelitian mesti dikembangkan tersebar di segenap penjuru negeri, supaya terjadi persaingan di antara pusat penelitian dalam negeri. Tak hanya ilmu alam, ilmu sosial, budaya, dan seni pun mesti dikembangkan. Tak perlu banyak studi banding, uangnya lebih baik untuk memberi beasiswa keluar negeri. Kazakhstan tiap tahun mengirim banyak sekali mahasiswa ke segenap penjurun dunia. Padahal Kazakhstan hanya berpenduduk 16 juta, kalah banyak dengan penduduk Jabodetabek. Kualitas pendidikan mesti diratakan di seantero negeri, maka adanya ujian nasional adalah tak terelakkan. Hal ini tak bisa terlihat dalam jangka pendek, tapi manfaatnya akan terlihat dalam jangka panjang.

Ketiga, keamanan. Baik tindak kriminal maupun keamanan lalu-lintas. Keamanan penerbangan mesti diutamakan, mengingat kebanyakan turis datang lewat udara. Mesti pula dibuka jalur-jalur penerbangan ke tempat-tempat wisata. Bila tak ada bandara, buat bandara baru! Supaya tak perlu menghabiskan waktu di perjalanan laut/darat. Bila sudah demikian, tinggal mengajak investor untuk membangun resort atau hotel di tempat-tempat wisata, maka pelancong pun akan berdatangan sendiri.

Selebihnya seperti banjir atau air bersih, tiap pemerintah daerah mesti didorong untuk menyediakannya sendiri. Kesehatan masyarakat, polusi, saya kira bisa dinomorduakan dulu, mengingat tak bisa semua hal dijalankan dengan kekuatan penuh. Sekian saja dulu, kalau ada ide kulanjutkan lagi. Ada masukan?

Oleh: h4d1 | 30 September 2009

Festival hantu dan bulan Ramadhan

Hungry ghost adalah perayaan dari orang Tionghoa yang percaya bahwa pada bulan itu pintu dunia bawah terbuka sehingga hantu-hantu kelaparan bergentayangan di bumi untuk mencari makanan dan hiburan. Mereka adalah hantu-hantu yang terlupakan karena belum diberi makan oleh anggota keluarga mereka yang masih hidup. Perayaannya adalah pada bulan 7 penanggalan Tionghoa. Terutama pada malam bulan purnama. Pembakaran hio, uang untuk orang mati, memberi sesajian, serta ritual lainnya mewarnai perayaan ini.
sembahyang
Kebetulan pada tahun 2009 ini perayaan festival hantu kelaparan kurang lebih bersamaan dengan bulan Ramadhan, bulan kesembilan dalam penanggalan Islam. Bulan yang suci yang perlu diisi dengan berpuasa sebulan penuh, menahan nafsu, memberi zakat fitrah, berdoa sesering mungkin mencari pahala sebanyak-banyaknya, terutama pada malam-malam akhir yang disebut dengan Lailatul Qadar. Pada bulan ini pulalah terdapat peringatan turunnya Alquran ke dunia yang disebut dengan Nuzulul Quran, diperingati pada tanggal 17 Ramadhan. Bila melakukan umrah di bulan ini akan mendapat nilai dan pahala lebih kalau dibandingkan dengan melakukannya pada bulan-bulan lain. Sebuah bulan yang benar-benar sakral.

Saya melihat ada perbedaan yang sangat besar antara perayaan hantu kelaparan dan bulan Ramadhan, meski terjadi pada waktu yang kurang lebih sama. Yang satu bulan yang paling suci dalam setahun, yang satunya lagi bulan “gelap”, untuk yang percaya, anak-anak mesti pulang sebelum gelap dan tidak berkeliaran, serta hal-hal lain supaya tidak diganggu oleh hantu-hantu yang berkeliaran. Bila semua agama pada dasarnya sama, maka pada hal ini terjadi bentrok antara Islam dan kepercayaan Tionghoa. Sebuah hal yang menunjukkan bahwa kepercayaan mereka tidaklah berasal dari Tuhan yang sama. Ada pendapat lain mengenai ini?

Singapore is famous as a clean country. That is mainly because of Singapore is also a fine country. Littering can be fined S$1000, selling of importing chewing gum S$1000, smoking S$1000, vandalism S$5000, eating in MRT/bus S$500, even there is fine for not flushing public toilet after use! The list is still long. It makes Singapore clean and aware of cleanliness. I raise a question, is it true because of their awareness or is it just because they are afraid of the fine/imprisonment/community work?

Last time when I was in China with a group of people from Singapore, when we walked down at the night. The lamp was not bright, even very dim. Then, one person who brought an empty bottle then just threw it away to behind grass and bushes in the darkness. The other people laughed and there was one who followed his example by also threw their bottle. It’s a big bottle, not a small bottle. I feel that eventhough they have been educated that littering is forbidden, but there is a rebellion inside their mind, so that when there is no strict rule/fine, they do littering. Maybe you can argue that in China it’s not as easy as in Singapore to find a garbage can, but I also heard that in Japan, it’s harder to find garbage can than Singapore, and yet the floor is still clean. I wonder what if the number of garbage can in Singapore is reduced, will Singapore become more and more dirty? I’m sure it will be worse when the littering fine is lifted out, especially with the increasing number of foreigners from poorer countries in Singapore, they will tend to do what they like just as what they do in their birth country. What about you? Do you do something because of afraid with the punishment? Or do you hear your own conscience?

Oleh: h4d1 | 31 Juli 2009

Marijuana vs Alcohol

Last month there was a Dutch guy told me that marijuana or cannabis is allowed in Holland. Although it’s for medicinal purpose and is tolerated up to 5 plants or 5 grams. Actually there is people who just use it for fun only. He raised a statement that marijuana actually is not as harmful as alcohol.

There is no overdose in Marijuana, unlike alcohol, which can lead to death if overdose. Marijuana tends to make people calm, alcohol make people do violence and aggressive behavior because they don’t feel shy or afraid. Alcohol increase cancer risk and cirrhosis, same with tobacco. Recent studies find that marijuana use is not associated with any type of cancer.

Actually alcohol and tobacco are more harmful and addictive than marijuana, but they are legally available. It’s strange if alcohol is legalised in many countries and marijuana is not. I don’t say that
marijuana should be legalised, but if marijuana is forbidden, alcohol should be forbidden too. What do you think about this?

Here is the link that you can read.

Oleh: h4d1 | 1 Juni 2009

Bible for Free

Several days ago there was one guy who knows a lot about camera said like this, “This 50 mm f2 lens don’t have a sufficient bokeh, due to fourth-third camera, the crop factor is too big already. Better to get third-party lens like Sigma with greater aperture if want to shoot people. It is good for isolating object”. I asked “If using Sigma f1.4 lens, beside have larger aperture, is there another advantage?” He replied, “Sigma lens have a bigger lens area than other four-third lens, so when it is used in four-third camera, the image quality should be better because the better image is in the centre of the camera.” He also recommend about 30 mm lens and 50 mm f1.4 lens from Sigma. When there was another guy who own a Minolta lens, the first guy knew instantly that the Minolta lens from another guy is quite old, manufactured more than ten years ago. I was surprised that he knows a lot about many lenses and cameras, although his camera is Canon. He said that he chooses a brand based on the lens. Which brand has better lens then he chooses the body based on that. “Canon has the larger number of lens choices, but Nikon has better body,” he said.

From that conversation I realized that he did a lot of research first before deciding to buy. It is done before he familiarized himself how it felt in his hand or tested it. I thought about it and try to relate it to bible. I realize that actually a lot of people own bible, and in fact it is the best selling book in the world history. But not many of those who own it really know what the real content inside. From those who know, just minority of them have read it from the beginning to the end. Partly because it is easy to get. Another part is because they might get it for free from somebody else. Just giving bible for free without inspiring them about the content inside and without make them eager about bible is like not respecting the value of the bible itself. After people are educated to know how important the bible is, people will read the bible automatically. The guy that I talked previously in the first paragraph knows the importance of good lens and good quality, so he automatically tried to get information before finding and buying the suitable one. I have one question, is the christian people also able to do like that? Realizing the importance of the bible and researching the good/best quotation or bible commentary before eventually buy the complete bible, it surely make them very satisfied when finally own a complete bible or suitable bible commentary. How wonderful it would be.

I know that maybe this analogy is unsuitable, because usually camera and lens brands are incompatible to each other, unlike different translation or bible commentary in which the content is essentially the same. But somehow I thought it is better for Christian to have a passion in bible just like the persons who have a passion with camera in my story above. Although another important thing that must not be forgotten after that is doing what we know from bible and be fruitful.

In Singapore, many Indonesians who study there are Chinese descent. When the first time they come, most of them expect English speaking environment, which is true in academic world. But outside it, other languages are widespread, especially Mandarin Chinese. Many of the Indonesian Chinese do not expect such a counter when, for example, some of the canteen aunties cannot speak English and only speak Chinese to them. When they meet Malaysian or Singaporean friends, many of them also speak in Chinese among themselves, so they feel alienated, although they are also considered as Chinese.

I remember when there is Malaysian girl who asked me whether I speak Chinese. I say just a little, then she asked me whether my parents can speak Chinese, I said “yes, they can”. She answered, “Why don’t they teach you?”. That made me ask to myself. Actually my father speaks Chinese not so fluent, at least not as fluent as my mother. And also my parent’s working environment is not in Chinese, even not Indonesian, but in Javanese. In fact, many of my Chinese friends in school, if not most of them, even their parents are not able to speak Chinese.

One of the easy answer to Chinese Malaysian or Singaporean or Chinese mainlander is by stating that speaking Chinese is prohibited in Indonesia. But I have encounter one China guy asking me if he come to Indonesia, is it against law if he speak in Chinese? Maybe he thought if speaks Chinese, there would be a fine or maybe even imprisonment. That question shocked me. In fact in the past, Chinese language is banned in formal situation. There is no radio, TV, or newspaper in Chinese. Actually there is no law that if somebody speaks in Chinese then he/she will be in jail. It is just a kind of suggestion. I think it is comparable with “Speaking Mandarin campaign” in Singapore when government discouraged the usage of Chinese ‘dialects’ in favor of Mandarin Chinese. So, the statement that Chinese is prohibited in Indonesia is UNTRUE.

Although have various nationality, but overseas Chinese still consider themselves as Chinese. Are they have about the same culture? Actually no! They have lived long enough in different countries to develop different custom and habit. In fact there are stereotypes about Singaporean, Malaysian, or Chinese Mainlander. There was one of my non-Chinese friend who told me that he surprised that many Indonesian Chinese dislike Chinese Mainlander. He thought Chinese mainlander is ‘purer’ or ‘more genuine’, or something like that. So Indonesian Chinese should well accept them or a kind of adore them. Apparently the culture difference is big enough, so it doesn’t happen. Another fact is most of Indonesian Chinese or South-East Asian Chinese are from Southern province, mostly from 2 provinces: Guangdong and Fujian. Whereas many of Chinese mainlander are from many other China provinces.

Back to Mandarin speaking. In fact as far as I know in South-East Asia, Chinese schools are only available in Singapore, Malaysia, and Brunei Darussalam, countries where Chinese population have quite a big percentage, 75 % in Singapore and about 70% in Penang, the rest of Malaysia is lower than that, but Brunei just 15%. In the rest of South-East Asian countries, Chinese is just a small minority and government tends to assimilate the Chinese to local population through for example, changing their name to local name, a practice that happen in Thailand, Vietnam, and Indonesia; stopping Chinese speaking school, etc. Although with the resurgence of China economy nowadays, there are some Chinese schools re-established.

Another answer of why Indonesian Chinese cannot speak Mandarin is because many of them have lived in Indonesia for generations or centuries, make them lose Chinese speaking ability. The same case also happen with Chinese who live in USA, UK, Australia, and many other places. Because Chinese is so minority there, many of them also cannot speak in Chinese. That case also happens in Indonesia.

When Indonesia was still a Dutch colony, some of the Indonesian Chinese sent their son to Dutch school, some of them to Indonesian school. This hindered them to speak Chinese. And also even if their family still maintain their ancestor’s language, the language would not be Mandarin, but Cantonese, Teochiu, Hokchiu, Hokkien, etc. Mandarin school just started in 20 century. In fact in China itself, Mandarin Chinese started to appear in books and official documents after May forth movement 90 years ago. And around that era, national language was established from Beijing dialect. There are still some Indonesian Chinese who educated in Chinese language who still preserve Chinese language, but they are just a minority. In some parts of Indonesia, such as North and East Sumatra, as well as West Kalimantan, most of the Chinese there able to speak Chinese ‘dialect’ such as Hokkien, Teochiu, or Hakka. For the rest part of Indonesia, most of young generations unable to converse in Chinese.

That is why Indonesian Chinese form their own community, which is usually not mix with other Chinese from different nationality. Even from their name, people can tell whether they are from Indonesia, except for some of them whose name is undistinguishable with other Chinese name or Western name. Some of the names can be easily recognized whether they are Indonesian Chinese or indigenous Indonesian. But some of them are difficult to recognized, even after meet the person himself.

In Singapore people tend to be classified into the race they belong. Such case does not happen in Indonesia. Or if it happens, it’s not stated clearly or not using strong command. It is frequent to encounter the applicants must fill in the race, name in Chinese character, and even dialect in application forms. I’m sure it make some Indonesian-Chinese think about themselves, “Am I really Chinese?”, “Why I don’t know anything about this?”. But stating that they themselves is ‘Indonesian’ race, they will be frowned by other people, since their Chinese face cannot deceive their mind.

Here some other writings about being Indonesian Chinese:
this
this
and this

Oleh: h4d1 | 31 Maret 2009

Baikkah menabung?

Dulu waktu aku masih kecil orang sering bilang untuk hemat dan rajin menabung. Tapi dalam krisis ekonomi saat ini, sering diberitakan bahwa negara merangsang warganya untuk berkonsumsi alias tidak menabung, dengan berbagai macam cara seperti pembangunan gedung atau jalur2 baru, sampai pemberian voucher untuk tiap warga, seperti yang terjadi di Taiwan. Suku bunga bank di Amerika dan Jepang pun diturunkan hingga sedikit saja di atas 0%, nyaris tidak ada bunganya, supaya orang makin berhutang dan membelanjakan uangnya. Kalau begini, apakah anjuran untuk rajin menabung akan tetap relevan? Bukankah itu melawan kehendak pemerintah?

Oleh: h4d1 | 24 Februari 2009

Dukun cilik Ponari

Puluhan ribu orang berbondong-bondong mendatangi sebuah desa di Jombang. Ratusan mobil parkir 2 kilometer dari tempat org2 mengantre. Mereka mengantre bagaikan lautan manusia. Sampai berdesak-desakan dan memakan korban jiwa, belum terhiting yang tak sadarkan diri, sembuh saja belum kok malah pingsan duluan. Ada apa gerangan? Adalah anak kelas 3 SD bernama Ponari yg dianggap bisa menyembuhkan sakit dari banyak orang. Bagaimana caranya? Sederhana saja, dengan mencelupkan batu ‘ajaib’ miliknya ke dalam gelas air, lalu didoakan dan diminum oleh si pasien. Pengobatan yang tak dapat dibuktikan kesahihannya ini membuat banyak orang rela datang dari jauh, bahkan dari Sumatra, Kalimantan, dsb, dan mengantre beberapa hari demi seteguk air. Maka tak heran dalam waktu kurang dari sebulan telah mengantungi uang di atas 1 miliar rupiah. Belum ditambah pemasukan dari parkir kendaraan dadakan, penjual makanan dan minuman, calo yang mengaku punya akses sehingga tak peru antre, hingga penjual buku Ponari. Luar biasa dalam hitungan hari langsung dibikin buku. Kreatif sekali usaha orang Indonesia dalam menjaring rupiah. Tak heran pula ada 2 dukun dadakan lain di Jombang saja. Belum termasuk yg di daerah lain.

Ponari mengaku batu berwarna coklat itu dia temukan secara tidak sengaja saat hujan deras mengguyur desanya. Saat suara petir menggelegar, dia mengaku kepalanya seperti dilempar benda keras. Dalam hitungan detik, ia merasakan hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Beberapa orang mengaku jadi sembuh atau mendingan dari sebelumnya. Meski itu kemungkinan hanya sugesti saja. Maka, tak heran ketika praktiknya ditutup karena Ponari kelelahan, tidak bisa sekolah, dan masuk rumah sakit. Banyak orang yang memaki-maki polisi seraya berkata, ““Ponari bacah sakti. Mana bisa sakit? Jangan bohongi kami.” Bahkan ada yang menciduk air bekas mandi dari saluran air, berharap itu ‘bekas’ Ponari untuk digosok2kan ke tubuh utk kesembuhannya.

Bahkan sampai ada usulan untuk membuat pipa air utk mengalirkan air yang telah dicelupi batu secara terus-menerus, supaya orang tak perlu antre. Suatu hal yg tentunya akan membuat lebih banyak orang lagi yang datang. Saya jadi berpikir ini nanti jadi seperti air zam-zam. Air zam-zam diambil tidak dengan diciduk seperti jaman Muhammad dulu, tapi dialirkan melalui keran.

Sungguh prihatin melihat masyarakat Indonesia masih banyak yang percaya hal gaib macam begini. Seakan sekolah gagal dalam mencerdaskan bangsa. Kira-kira apa yg akan terjadi bila Ponari tetap mengobati? Mari kita berandai-andai. Bisa jadi munculnya dukun akan jadi hal yg nge-tren dan menyebar di banyak tempat di Indonesia. Kalau Ponari mau berbisnis, dia bisa saja membuat produk Ponari Sweat, misalnya, lalu dijual dalam kemasan. Dibuat cabang di banyak tempat, atau dialirkan pipa dari rumah Ponari yang akan menandingi pipa PDAM. Atau apa lagi ya? Pembaca ada bayangan lain?

Oleh: h4d1 | 26 Januari 2009

Mengapa Jakarta?

Di negeri Singa seringkali disebutkan begini, “Nanti bila ada dari kalian yang pulang Jakarta, bisa…” atau “Nanti siapa saja yang pulang Jakarta?”. Seakan-akan Indonesia hanyalah Jakarta. Padahal orang Jakarta di Singaour tidak mencapai 80%. Memang banyak yg dari Jakarta, tapi seolah-olah orang dari daerah lain dinafikan. Penduduk kota Jakarta paling banyak 5% saja dari penduduk Indonesia. Kalau ditambah Jabodetabek pun masih kurang dari 10%. Indonesia tidaklah seperti Thailand yang begitu bergantung dengan Bangkok, atau Korsel dengan Seoul-nya. Indonesia lebih menyebar, baik dalam penduduk maupun dari GDP-nya. Dengan menganggap diri sebagai pusat dari Indonesia. Ini pertanda hegemoni orang Jakarta-kah? Atau menganggap remeh orang dari daerah lain secara tak sadar?

Tulisan Sebelumnya »

Kategori